Jumat, 15 April 2011

PENGERTIAN, KEDUDUKAN DAN KOMPONEN-KOMPONEN KURIKULUM

PENGERTIAN, KEDUDUKAN dan KOMPONEN-KOMPONEN
KURIKULUM


A.    Pengertian Kurikulum
Kurikulum (curriculum) dalam bahasa Yunani Kuno berasal dari kata Curir  yang artinya pelari; dan Curere yang artinya tempat berpacu, selain itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh pelari.
Perkataan kurikulum dikenal sebagi suatu istilah  dalam dunia pendidikan sejak kurang lebih satu abad yang lalu. Perkataan ini belum terdapat dalam kamus Webster tahun 1812 dan baru timbul untuk pertama kalinya dalam kamus tahun 1856. artinya pada waktu itu adalah:
1.   a race course; a place for running
2.  a course in general; applied particularly to the course of study to a university           Penggunaan kata “kurikulum” semula hanya digunakan dalam bidang olah raga kemudian berkembang dan dipakai dalam bidang pendidikan yakni sejumlah mata kuliah di perguruan tinggi.
Di Indonesia istilah kurikulum bisa dikatakan mulai menjadi popular sejak tahun lima puluhan, yang dipopulerkan oleh mereka yang  memperoleh pendidikan di Amerika Serikat. Kini istilah itu telah dikenal oleh orang di luar pendidikan. Sebelumnya, yang lazim digunakan ialah “rencana pelajaran”. Pada hakikatnya kurikulum sama artinya dengan rencana pelajaran. Hilda Taba dalam bukunya Curriculum Development, Theory and Practise mengartikan sebagai  a plan for learning, yakni sesuatu yang  direncanakan untuk pelajaran anak.[1]

Berikut beberapa devinisi kurikulum dari beberapa ahli:       
1.      J. Galen Saylor dan William M. Alexander dalam buku Curriculum Planning for Better Teaching on Learning (1956), menjelaskan arti kurikulum sebagai berikut ”The curriculum is the sum totals of schools efforts to influence learning, whether in the class room, on the play ground, or out of school.” Jadi segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak belajar, apakah dalam ruang kelas, di halaman sekolah, atau di luar sekolah termasuk kurikulum. Kurikulum meliputi juga apa yang disebut kegiatan ekstra kulikuler.
2.      Harold B. Albertycs, dalam Reorganizing the High School Curriculum (1965) memandang kurikulum sebagai ”all of the activities that are provided for student by the school”.
3.      B. Othanel smith, W. O. Stanley dan J. Harlan Shores memandang kurikulum sebagai ”a asequence of potential experiences set up in the school for the purpose of disciplining children and youth in group ways of thinking and acting”. Mereka melihat sejumlah pengalaman yang secara potensial dapat diberikan kepada anak dan pemuda, agar mereka dapat berpikir dan berbuat sesuai dengan masyarakatnya.
4.      William B. Ragan, dalam buku Modern Elementary Curriculum (1966), menjelaskan arti kurikulum sebagai berikut : The tendency in recent decades has been to use the term in a broader sense to refer to the whole life and program of the school. The term is used…to include all the experiences of children for which the school accepts responsibility. It denotes the results of efferorts on the part of the adults of the children the finest, most whole some influences that exist in the culture. Ragan menggunakan arti kurikulum dalam arti yang luas , yang meliputi seluruh program dan kehidupan dalam sekolah, yakni segala pengalaman anak dibawah tanggung jawab sekolah. Kurikulum tidak hanya meliputi bahan pelajaran tetapi meliputi seluruh kehidupan dalam kelas. Jadi hubugan social antara guru dan murid, metode mengajar, cara mengevaluasi termasuk kurikulum.
5.      J. Lloyd Trump dan Delmas F. Miller dalam buku Secondary School Improvement. Menurut mereka dalam kurikulum juga termasuk metode mengajar dan belajar, cara mengevaluasi murid dan seluruh program, perubahan tanaga mengajar, bimbingan dan penyuluhan, supervise dan administrasi dan hal-hal struktural mengenai waktu, jumlah ruangan serta kemungkinan memilih mata pelajaran. Ketiga aspek pokok, program, manusia dan fasilitas sangat erat hubungannya, sehingga tak mungkin diadakan perbaikan kalau tidak diperhatikan ketiga-tiganya.
6.      Alice Miel, dalam bukunya Changing the curriculum: a social process (1946), Ia mengemukakan bahwa kurikulum juga meliputi keadaan gedung, suasana sekolah, keinginan, keyakinanpengetahuan dan sikap orang-orang melayani dan dilayani sekolah, yakni anak didik, masyarakat, para pendidik dan personalia.
7.      Edward A. Krug dalam The secondary school curriculum (1960) menunjukkan pendirian yang terbatas tapi realitas tentang kurikulum. Definisinya adalah ”A curriculum consists of the means used to achieve or carry out given purpose of schooling”. Kurikulum dilihatnya sebagai cara-cara dan usaha untuk mencapai tujuan persekolahan. Selain itu Krug juga membatasi kurikulum pada:
a.       Organized classroom instruction, yaitu pengajaran didalam kelas;
b.      Kegiatan-kegiatan tertentu diluar pengajaran itu, seperti bimbingan dan penyuluhan, kegiatan pengabdian masyarakat, pengalaman kerja yang bertalian dengan pelajaran, dan perkemahan sekolah.
8.      UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 19: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, tambahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Berikut ini beberapa penggolongan yang didapat dari berbagai devinisi tentang kurikulum:
1.      kurikulum dapat dilihat sebagai produk, yakni sebagai hasil karya para pengembang kurikulum, biasanya dalam suatu panitia. Hasilnya dituangkan dalam bentuk buku atau pedoman kurikulum yang misalnya berisi sejumlah mata pelajaran yang harus diajarkan.
2.      kurikulum dapat pula dipandang sebagai program, yakni alat yang dilakukan oleh sekolah untuk mencapai tujuannya. Ini dapat berupa mengajarkan beberapa mata pelajaran tetapi dapat pula meliputi segala kegiatan yang dianggap dapat mempengaruhi perkembangan siswa misalnya perkumpulan sekolah, pertandingan, pramuka dan lain-lain.
3.      kurikulum juga dapat dipandang sebagai hal-hal yang diharapkan akan dipelajari siswa, yakni pengetahuan, sikap, keterampilan tertentu. Apa yang diharapkan akan dipelajari  tidak selalu sama dengan apa yang benar-benar dipelajari.
4.      kurikulum sebagai pengalaman siswa. Ketiga pandangan diatas berkenaan dengan perencanaan kurikulum sedangkan pandangan ini apa yang secara actual menjadi kenyataan pada tiap siswa. Ada kemungkinan bahwa apa yang diwujudkan pada diri anak berbeda dengan apa yang diharapakan menurut rencana.
B. Kedudukan Kurikulum
            Kurikulum memiliki kedudukan yang penting dalam dunia pendidikan. Hal ini dikarenakan adanya keterkaitan antara teori-teori pendidikan yang berkembang dengan konsep-konsep kurikulum  yang dikembangkan.
            Seiring perkembangan masyarakat modern, pendidikan lebih banyak diselenggarakan secara formal terutama di sekolah-sekolah, hal ini karena sekolah mempunyai kelebihan yaitu keluasan untuk memberikan isi pendidikan yang tidak hanya nilai-nilai moral yang diajarkan tetapi juga mengenai perkembangan teknologi dan kehidupan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan yang lebih luas dan lebih mendalam dibandinkan keluarga.
            Berkembangnya pendidikan formal dalam bentuk lembaga pendidikan sekolah menuntut adanya kurikulum yang dirancang dan dikembangkan secara tertulis dan pada akhirnya kurikulum merupakan bagian yang tak terpisahakan dari kegiatan pendidikan khususnya pendidikan formal di sekolah. Dengan adanya kurikulum maka guru maupun siswa memiliki arah dan pedoman untuk melakukan kegiatan pendidikan, pengajaran dan pembelajaran di lembaga pendidikan di sekolah, mulai dari materi pelajaran yang harus diberikan, program dan rencana pembelajaran yang harus dibuat, kegiatan dan pengalaman belajar yang harus dilakukan dan penilaian terhadap pendidikan yang telah dilaksanakan dalam bentuk hasil belajar yang dicapai oleh siswa.[2]

C. Komponen-Komponen Kurikulum
            Kurikulum merupakan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan, oleh karena itu, kurikulum mempunyai komponen-komponen yang saling  berkaitan sebagai berikut:
  1. Tujuan                                                                                                                         Seperti telah disebutkan di atas bahwa kurikulum merupakan  suatu program yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan. Maka tujuan itulah yang dijadikan acuan dalam melaksanakan kegiatan pendidikan. Tujuan yang berlaku pada suatu Negara pada dasarnya merupakan tujuan pendidikan nasional yang hendak dicapai oleh suatu Negara. Dalam perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional dapat dilihat dengan jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, bahwa: :Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab.”
Sementara itu terkait dengan tujuan pendidikan Islam, menurut Hasan Langgulung pada dasarnya adalah tujuan hidup manusia itu sendiri, sebagaimana tersirat dalam QS. Adz Dzaariyaat: 56                 
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Tujuan kurikulum biasanya terdiri atas tiga tingkatan, yaitu[3]:
a.       Tujuan jangka panjang
Tujuan ini menggambarkan  tujuan hidup yang diharapkan serta didasarkan pada nilai yang diambil dari filsafat. Tujuan ini tidak berhubungan langsung dengan tujuan sekolah, melainkan sebagai target setelah anak didik menyelesaikan sekolah, seperti: self realization, ethical character, civic responsibility.
b.      Tujuan jangka menengah
Tujuan ini merujuk pada tujuan sekolah yang berdasarkan pada jenjangnya, misalnya sekolah SD, SMP, SMA dan lain-lain.
c.       Tujuan jangka pendek
Tujuan yang dikhususkan pada pembelajara di kelas, misalnya: siswa dapat mengerjakan perkalian dengan benar, siswa dapat mempraktekan sholat dan lain sebagainya.
                  Dalam sebuah kurikulum lembaga pendidikan terdapat dua tujuan, yaitu:
a.       Tujuan yang dicapai secara keseluruhan.
Tujuan ini biasanya meliputi aspek-aspek pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), sikap (afektif) dan nilai-nilai yang diharapkan dapat dimiliki oleh para lulusan lembaga pendidikan yang bersangkutan. Hal tersebut juga disebut tujuan lembaga (institusional).
b.      Tujuan yang ingin dicapai oleh setiap bidang studi
Tujuan ini biasanya disebut dengan tujuan kulikuler. Tujuan ini adalah penjabaran tujuan institusional yang meliputi tujuan kurikulum dan instruksi yang terdapat pada GBPP (Garis-Garis Besar Program Pengajaran) tiap bidang studi.
                 
  1. Materi Kurikulum/ Bahan Ajar
Materi kurikulum merupakan bahan ajar atau bahan kajian dalam bentuk mata pelajaran. Dalam materi kurikulum terdapat aspek-aspek: teori, konsep, generalisasi, prosedur, fakta, istilah, contoh dan ilustrasi.
Penyajian materi kurikulum harus memperhatikanprinsip-prinsip: berdasarka urutan waktu (kronologis), berdasarkan urutan sebab-akibat (kausal), berdasarkan urutan bahan ajar (struktural), dari bagian menuju keseluruhan dan dari sederhana kepada yang kompleks (logis), dari keseluruhan kepada bagian, dari yang kompleks kepada yang sederhana (psikologis), dari topic ke pokok bahasan atau sebaliknya dari pokok bahasan ke topic yang bisa diperdalam dan diperluas (spiral).[4]
Adapun kriteria yang digunakan untuk menentukan isi kurikulum sebelum dibakukan adalah sebagai berikut:
    1. Kebermaknaan (signifikasi)
    2. Manfaat atau kegunaan
    3. Pengembangan manusia
  1. Strategi Mengajar
Strategi merujuk pada pendekatan dan metode serta perlatan mengajar yang digunakan dalam pengajaran. Tetapi pada hakikatnya strategi pengajaran tidak hanya terbatas pada hal itu saja. Pembicaraan strategi pengajaran tergambar dari cara yang ditempuh dalam melaksanakan pengajaran, mengadakan penilaian, pelaksanaan bimbingan dan pengaturan kegiatan baik yang secara umum brlaku maupun yang bersifat khusus dalam pengajaran.[5]
  1. Proses Belajar Mengajar[6]
Komponen ini sangat penting dalam sistem pengajaran, sebab diharapkanmelalui proses belajar mengajar akan terjadi perubahan-perubahan perilaku pada diri peserta didik. Keberhasilan pelaksanaan proses belajar mengajar merupakan indicator keberhasilan pelaksanaan kurikulum. Kemampuan guru menciptakan suasana pengajaran yang kondusif, merupakan indicator kretivitas dan efektifitas guru dalam mengajar. Dan hal tersebut bisa dicapai bila guru dapat:
    1. Memusatkan pada kepribadiannya dalam mengajar
    2. Menerapkan metode mengajarnya
    3. Memusatkan pada proses dan produknya
    4. Memusatkan pada kompetensi yang relevan
           
5.   Media Mengajar
            Media yang dipergunakan dalam mengajar atau sering disebut juga dengan media pembelajaran. Menurut tim LPM DKI Jakarta: media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau inormasi dalam mengajar mengajar sehingga dapat merangsang perhatian dan minat siswa dalam belajar.
            Dengan demikian media pengajaran adalah  alat yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dan pesan-pesan pengajaran dari sumber belajar yaitu guru kepada peserta didik yaitu siswa agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efisien.[7]

6.   Evaluasi Pengajaran
            Dari arti luas, evaluasi adalah prosesmerencanakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan serta merupakan proses untuk menentukan nilai segala sesuatu dalam dunia pendidikan arau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan. Evaluasi juga dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan-tujuan yang terdapat dalam kurikulum sudah tercapai.evaluasi pengajaran ditujukan untuk mengetahui keberhasilan mengajar yang dilakukan guru serta keberhasilan siswa dalam melakukan aktivitas belajar serta keberhasilan pembelajaran secara keseluruhan.[8]

7.   Penyempurnaan Pengajaran
Penyempurnaan Pengajaran dapat dilakukan setelah melihat hasil yang dicapai dalam kegiatan belajar mengajar setelah dilakukan penilaian. Penyempurnaan pengajaran mulai dari strategi pengajaran , model dan pendekatan pengajaran yang digunakan, metode dan teknik yang digunakan untuk pemenfaatan, alat media dan sumber belajar.[9]



DAFTAR   PUSTAKA


Abulraihan. 12 Mei 2008. Komponen-Komponen Kurikulum Pendidikan. Available [online]:<http://abulraihan.wordpress.com/2008/05/12...>28 Februari 2010.
Khoiron, Ahmad. 19 Januari 2007. Komponen Kurikulum dan Prosedur pengembangan Kurikulum. Available[online]:<http://koir.multiply.com/../kurikulum>28 Februari 2010.
Nasution, S. 2005. Asas-Asas Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara.
Syah, Darwyn et.al. 2007. Perencanaan Sistem Pengajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Gaung Persada Press.



[1] S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), h. 2.
[2] Darwyn Syah et.al., Perencanaan Sistem Pengajaran Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007), h. 14.
[3] Ahmad khoiron, Komponen Kurikulum dan Prosedur pengembangan Kurikulum (Available[online]: <http://koir.multiply.com/../kurikulum>19 Januari 2007),  28 Februari 2010.
[4] Darwyn Syah, op. cit., h. 15.
[5] Ahmad Khoiron, loc. cit.
[6] ibid
[7] Darwyn Syah, op. cit., h. 16
[8] ibid
[9] ibid

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar